Main Menu

Mengenang Arie Hanggara, Kisah Yang Tak Terlupakan

Beritaterkini.org – Berita tentang Arie Hanggara sudah sangat terkenal. 35 tahun silam, tepat pada tanggal 8 November, Arie meninggal setelah dihukum oleh sang Ayah dari siang hingga malam.

Saat masih kecil, orang tuanya sudah bercerai dan ia diboyong oleh ayahnya untuk tinggal bersama dengan “istri” barunya, Santi. Santi pada saat itu belum sah menjadi ibu tiri Arie dan saudara-saudaranya. Arie bukanlah anak tunggal, ia masih memiliki 2 saudara kandung yang juga ikut diboyong ayahnya.

Sebuah kisah masa lalu yang kelam. Arie Hanggara tidak seharusnya dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Tahun 1984, tahun dimana kabar tentang kekerasan terhadap anak yang berujung pada kematian menyebar luas di Indonesia.

Arie, yang ternyata sering kali mengalami kekerasan dari ayah dan juga ibu tirinya, merupakan anak yang terlihat ceria di sekolah. Tak ada satu pun yang menyangka bahwa Arie mendapatkan perlakuan kejam dari ayahnya.

Jika menurut guru-guru dan teman-teman di sekolah, Arie merupakan anak yang bahagia, berbeda dengan pandangan sang ayah dan juga ibu tiri. Mereka menganggap bahwa Arie adalah anak yang nakal dan susah di atur. Maka dari itu, mereka kerap menghukum Arie… dengan cara mereka sendiri: kekerasan.

Beberapa kali Arie pernah dipergoki mereka sedang mencuri uang. Kesal, mereka menampar, menendang, memukul Arie. Tak hanya itu, Arie juga kerap disuruh jongkok dan berdiri tanpa berhenti, seperti sedangĀ squat. Kepala Arie pun kerap terlihat memar karena terus-terusan dijeduki ke tembok oleh orang tuanya. Jika perbuatan Arie tidak terlalu jauh, ia hanya akan dikurung di kamar mandi.

Namun, Arie tidak pernah menceritakan apa yang ia alami di rumah kepada guru di sekolahnya. Jika ditanya, ia hanya akan menjawab bahwa ia memar karena jatuh.

Baca Juga: Balita Meninggal Terjebak Di Sumur Selama Berhari-hari

8 November 1984, Arie menghembuskan nafas terakhirnya. Mungkin Tuhan lebih menyayangi Arie yang selama hidupnya di siksa terus menerus oleh orang tuanya sendiri.

Tak disebutkan penyebabnya apa, tetapi pada saat itu, Arie sedang dihukum oleh sang Ayah dan ibu tirinya. Seharian Arie tidak diberi makanan dan minuman untuk asupan gizi. Malam harinya, kepala Arie pun tak luput dari benturan ke tembok oleh sang Ayah.

Seorang anak yang baru berumur 7 tahun tidak mungkin kuat mengalami semua kekerasan ini. Ia pun tumbang. Ayahnya yang saat itu terbangun karena ingin ke kamar kecil mendapati anaknya sudah terkapar. Ayah dan ibu tirinya pun membawa Arie ke rumah sakit. Namun, Arie meninggal dunia sebelum ia sampai di rumah sakit.

Berdasarkan hasil autopsi, ada 40 luka di seluruh tubuh Arie. Dari pantat, dada, tengkuk, punggung, pinggang, dan di kedua lengan Arie. Ia dimakamkan di TPU Jeruk Purut di Jakarta Selatan dengan tulisan “Maafkan Mama” dan “Maafkan Papa” di samping nisannya.

Opini

Sang ayah pun di vonis 5 tahun penjara, sedangkan ibu tirinya mendapatkan vonis 2 tahun penjara. Agak sedikit jomplang dengan apa yang sudah mereka lakukan terhadap si kecil, bukan?

Dan bukan hanya Arie saja yang menjadi korban kekerasan oleh orang tuanya. Masih banyak sekali anak-anak yang mengalami ini sampai merenggang nyawa.

Terkadang kita berpikir… apakah kita sebagai orang tua sudah berhasil mendidik anak? Bagaimana cara mendidik anak yang baik? Memang, mayoritas orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan kita memiliki cara yang berbeda dalam mendidik anak. Tapi, apa kekerasan selalu menjadi jalan untuk mendidik anak? Apa tidak ada cara lain?

Tapi, kalau anaknya badung, gimana? Kita ngomong baik-baik tetap nggak di dengar.”

Terkadang saya sering mendapatkan jawaban seperti itu. Setiap anak pasti memiliki perilaku yang berbeda. Seperti Arie, dia anak yang baik walaupun nakal. Namun, apakah pantas ketika ia ketahuan mencuri uang, langsung dihukum? Apa tidak bisa bertanya mengapa ia melakukan itu? Mungkin ia ingin diperhatikan ayahnya?

Perceraian orang tua bisa mengganggu psikologis tumbuh kembang anak. Ia juga membutuhkan perhatian dari ibunya. Didik ia dengan tegas, namun jangan kasar. Jangan memberikan contoh yang buruk terhadap anak, berikan contoh yang baik. Anak seusia Arie kerap mengambil contoh perilaku orang sekitarnya. Maka dari itu, sebagai orang tua, kita harus berhati-hati dalam bertindak dan bersikap di depan anak.






Comments are Closed